Setelah sekian lama punya keinginan mengunjungi kota yang berada di ujung barat Indonesia-Banda Aceh akhirnya kesampaian juga di tanggal 28 Desember 2019. Sudah beberapa kali issued tiket ke kota ini tapi tidak ada satu pun yang jadi karena alasan ada acara keluarga dan kerjaan mendadak di kota domisili yaitu Medan yang tidak bisa ditinggalkan. Jarak antara Medan dan Banda Aceh tidak terlalu jauh, hanya sekitar 600 km. Dari Medan menuju Banda Aceh ada 2 cara yaitu via darat dan via udara. Jika via udara hanya membutuhkan 1 jam saja dan jika overland membutuhkan waktu selama 12 jam. Kali ini saya memilih overland menuju Banda Aceh karena saya penasaran dengan bus Medan-Banda Aceh yang katanya bagus, dan yang lebih penting jadwal keberangkatannya ada di malam hari jadi bisa disesuaikan dengan jam kerja saaya dan terlebih lagi terminalnya tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Saya membeli tiket bus Medan-Banda Aceh-Medan via OTA di H-6 keberangkatan dan itu semua redeem point. Singkat cerita, di tanggal 27 Desember sepulangnya dari tempat kerja saya menuju loket terminal sesuai dengan nama bus yang sudah saya issued yaitu Sempati Star. Saya memilih jadwal di jam 9 malam agar tidak buru-buru. Selama 12 jam di bus akhirnya saya sampai di kota Banda Aceh. Walau masih jam 9 pagi (28 Desember 2019) tapi saya langsung menuju Hotel di daerah yang berdekatan dengan Baiturrahman yaitu Hip Hop Hotel yang sudah saya booking bersamaan dengan tiket bus via OTA. Di hari pertama saya menerima kesan baik dari kota ini yaitu kondektur bus-nya baik karena menanyakan mau stay dimana dan merekomendasikan turun dimana agar jaraknya dekat, Akhirnya sampai lah Hotel di jam 9.15 pagi dan saya diperbolehkan check in karena kamar sudah tersedia, biasanya dimana-mana Hotel diperbolehkan check in jam 12 siang. Dan di kamar Hotel disediakan alqur'an dan sajadah. Selama ini baru di Aceh dan Mekkah saja yang menyediakan alqur'an di kamar Hotelnya, sungguh speechless.

Mesjid Baiturrahman (tampak depan)


Mesjid Baiturrahman (tampak samping)

Detail Pintu Mesjid Baiturrahman

1. Mesjid Baiturrahman 

Agenda saya di Banda Aceh hanya untuk semedi sementara waktu dari rutinitas jadi saya tidak membuat itenerary lengkap dan detail. Setelah check in dan beberes saya langsung menuju mesjid Baiturrahman dan makan disekitarnya. Alhamdulillah lagi-lagi ketemu orang yang ramah. Setelah itu saya masuk ke mesjid Baiturrahman, dan disambut oleh payung mesjid yang fenomenal dan mirip dengan Mesjid Nabawi, Madinah. Menurut pendapat saya kota Madinah dan Banda Aceh itu memiliki kemiripan yaitu Aceh punya mesjid Baiturrahman, Madinah punya mesjid Nabawi, dan 2 kota ini memiliki atmosfer ketenangan bagi pengunjungnya. 

Pintu Depan Museum Tsunami
2. Museum Tsunami

Setelah mengunjungi Baiturrahman, saya langsung menuju Museum Tsunami yang letaknya tidak terlalu jauh yaitu hanya 1 km saja. Jadwal buka Museum ialah jam 09.00 - 16.00 WIB. Tiket masuk Museum hanya IDR 3.000 dan info dari orang yang sudah pernah berkunjung kesini sebelumnya gratis. Saat masuk ke Museum ini kita langsung disuguhkan dengan lorong sempit dan gelap agar membuat pengunjung merasakan apa yang dirasakan oleh korban dahulu. Berikut foto-foto suasana yang ada di dalam Museum.

Ruangan Tempat Ziarah dan di Dinding ini Terdapat Nama-nama Korban Tsunami Aceh 
Suasa di dalam Museum

Museum Tsunami ini dibangun sebagai pengingat generasi mendatang bahwa pernah terjadi gempa dan tsunami di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004 yang menelan ribuan korban jiwa dan korban paling banyak yaitu di Aceh. Museum ini juga sebagai tempat pusat pendidikan dan tempat perlindungan bencana alam saat bencana alam tsunami lagi dan sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh atas peristiwa yang pernah terjadi pada akhir 2004 silam. Dan Museum merupakan karya dari Bapak Ridwan Kamil.

Mesjid Rahmatullah (Tampak Depan)

Mesjid Rahmatullah (Tampak Samping)

3. Mesjid Rahmatullah, Lampuuk

Keesokan harinya yaitu tanggal 29 Desember 2019 saatnya one day trip. Kali ini saya tidak sendiri tetapi ditemani oleh teman saya yang berasal dari Sumatera Utara juga yang saat ini berdomisili di Banda Aceh. Kita sepakat memulai trip di jam 11.00 WIB. Spot yang akan datangi ialah pantai, sebelumnya teman saya memberikan rekomendasi bahwa jika ke Aceh harus mengunjungi pantai, karena lautnya biru, pasirnya putih, dan masih alami karena tidak ada pembangunan resort-resort seperti di daerah lain. Sebenarnya saat pergi ke Aceh tidak banyak ekspektasi dengan kota ini, apalagi dengan pemadangannya. Sebelum pergi, saya bertanya dengan teman saya, sebut saja namanya Rizqi, dia juga tidak ada menjelasakan apa-apa mengenai kota ini karena dia juga mengakui tidak banyak mengeksplore kota ini karena jadwalnya yang sibuk. Mumpung saya lagi di Banda Aceh dan ketepatan tanggal 29 Desember 2019 dia libur akhirnya dia mau mengantarkan saya keliling kota ini. Pantai yang akan kita datangi ialah Pantai Lampuuk. Dari penginapan yang letaknya berdekatan dengan Mesjid Baiturrahman ke pantai Lampuuk ini berjarak sekitar 15 km. Dan disepanjang jalan terdapan beberapa tempat yang menjadi kuburan massal para korban tsunami pada tahun 2004 silam. Spot yang kami singgahi ialah Mesjid Rahmatullah. 




Tidak hanya Mesjid Baiturrahman yang berdiri kokoh saat Aceh mengalami tsunami tetapi ada 1 mesjid lagi yang berdiri kokoh saat peristiwa itu terjadi ialah Mesjid Rahmatullah yang berada di daerah Lampuuk. Mesjid ini merupakan satu-satunya bangunan yang berdiri kokoh saat daerah Lampuuk mengalami tsunami tahun 2004, meskipun jaraknya hanya 500 meter dari bibir pantai, masya Allah. Namun ada beberapa bagian dari bangunan Mesjid ini yang rusak tetapi sebagian besar masih dalam keadaan utuh.

Pantai Lampuuk

Pohon Pinus di Pantai Lampuuk


Pondok di Pinggir Pantai Lampuuk
4. Pantai Lampuuk

Spot selanjutnya yaitu pantai Lampuuk yang merupakan primadona wisata di Aceh Besar. Pasirnya putih, lautnya biru, terdapat pohon pinus yang rindang, tempat ini cocok sekali untuk melepaskan kepenatan dari rutinitas sehari-hari. Sesampainya di pantai ini rasanya tidak ingin pulang dan foto yang diambil juga seadanya karena melihat langsung lebih indah dari hanya sekedar foto hehehe.
Sebelumnya pantai ini mengalami kerusakan yang cukup hebat akibat tsunami tahun 2004. Akan tetapi secara berangsur-angsur pantai ini pulih dan kembali dibuka dan menjadi tujuan wisata bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.

Kopi Solong

5. Warung Kopi Solong


Saat jam makan siang, saatnya dari Aceh besar balik ke Banda Aceh, karena kuliner banyaknya di daerah Banda Aceh. Ada beberapa tempat legend dan recommended yang kami datangi tetapi tutup dan akhirnya kami menemukan Warung Kopi Solong. Kami juga ditemani oleh temannya Rizqi yaitu bang Gimor. Bang Gimor lebih lama tinggal di Banda Aceh dan mengetahui banyak seluk beluk tentang kota ini, jadi sepanjang perjalanan dia bercerita tentang seluk beluk kota Aceh termasuk kulinernya. Dan salah satu tempat rekomendasi dari dia ialah warung kopi solong.
Nama kedai kopi ini yang sebenarnya ialah Kedai Jasa Ayah. Solong itu merupakan nama dari pendiri kedai kopi ini yaitu Abu Solong dan merupakan usaha turun temurun dari tahun 1974, tetapi pelanggan lebih suka menyebutnya dengan kedai Solong daripada nama kedainya sendiri.
Di kedai ini tidak hanya menjual kopi tetapi aneka kue khas Aceh dan mie Aceh. Mie Aceh disini juga enak dan rasanya berbeda dengan yang biasa saya makan di kota Medan.

Masyarakat Aceh itu seperti orang Melayu yaitu mempunyai budaya sosialisasinya kental, jika ngobrol sambil minum kopi di warung kopi. Tak heran kota ini juga dijuluki sebagai negeri Seribu Kedai Kopi.
PLTD Apung, Aceh

Suasana di dalam PLTD Apung
6. PLTD Apung

PLTD Apung ini merupakan bukti nyata kedahsyatan gelombang tsunami tahun 2004. Kapal dengan panjang 63 meter ini mampu menghasilkan daya sebesar 10,5 megawatt. Dengan luas mencapai 1.900 meter persegi dan bobot 2.600 ton mampu terbawa oleh gelombang tsunami sejauh 5 km dari pantai Ulee Lhee ke pemukiman masyarakat yaitu daerah Gampong Punge, Blangcut, Banda Aceh.
PLTD Apung ini juga dijadikan sebagai monumen peristiwa tsunami dan tempat wisata bagi masyarakat Aceh maupun luar Aceh.
Di dalam PLTD apung ini dijadikan museum, terdapat benda-benda bekas tsunami, gambar dan ilustrasi video terjadinya tsunami dan bagaimana kapal ini berpindah dulunya.
Perjalanan selama di Aceh ini benar-benar menyentuh hati dan perasaan karena tempat-tempat yang dikunjungi sebahagian besar bekas terjadinya tsunami yang memakan ribuan korban. Dan alamnya juga cantik dan natural.

Saya berkunjung ke Aceh hanya 2 hari 1 malam saja (tidak perlu cuti kantor) rasanya masih kurang untuk waktu sesingkat itu, tapi segini juga sudah sangat bersyukur bisa menginjakkan kaki di ujung baratnya Indonesia. Semoga pariwisata kota ini semakin maju dan tetap bertahan dengan budaya dan keasriannya dan masyarakatnya juga bangkit dari keterpurukan yang pernah menimpa mereka..Aamiin.

Keep Calm and Travel On



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib