Vietnam adalah salah satu negara favorit saya karena selain murah, kota-kota di Vietnam juga layak untuk dikunjungi. Saya ke Vietnam pada Mei 2016 bersama lima teman saya dengan rute penerbangan Kuala Lumpur-Ho Chi Minh. Kota yang kami kunjungi selama di Vietnam ialah HCMC (Ho Chi Minh City), Mui Ne, dan Dalat. Cerita tentang kota Dalat sudah saya bahas di tulisan Jatuh Hati dengan Kota Dalat. Setelah tiba di HCMC dan selama seharian berkeliling di kota ini, kami membeli tiket bus ke Mui Ne dan memilih bus Tam Hanh Travel. Penjualan tiket lintas kota bahkan lintas negara seperti HCMC-Siem Reap (Kamboja) banyak ditemui di daerah Ben Than Market. Ben Than Market ini merupakan daerah turistik di HCMC karena banyak terdapat penginapan, restoran, bahkan ada pasar untuk berburu oleh-oleh disini. Daerah ini letaknya strategis bagi para wisatawan karena dapat mengeksplore HCMC dengan jalan kaki.

Suasana di Sleeper Bus


Saat Berada di Sleeper Bus
Hari kedua di Vietnam, kami mengunjungi Mui Ne menggunakan sleeper bus yang sudah kami pesan di hari sebelumnya. Kami memilih keberangkatan paling pagi yaitu pukul 06.00 am. Sistem keberangkatannya, kami dijemput di depan hotel tempat kami menginap yaitu Capsule Hotel  yang berada di Ben Than menggunakan minivan lalu dibawa ke terminal bus besar yang ada di HCMC. Saya dan kelima teman saya mendapatkan tempat paling belakang.


HCMC ke Mui Ne membutuhkan waktu tempuh selama 5 jam dan tibalah di Mui Ne sekitar jam 11.00 am. kami langsung mencari penginapan karena semua penginapan selama di Vietnam dipesan secara on the spot a.k.a pesan langsung di tempatnya. Alasan tidak dipesan ialah karena itinerary perjalanan yang belum konsisten. Penginapan yang sudah saya list ialah Mui Ne Village. Setibanya di penginapan tersebut ternyata penuh. Jadi kami mencari penginapan di sekitaran Mui Ne Village. Akhirnya ketemu penginapan murah meriah dan konsepnya seperti Cottage. Kami pun menanyakan harga di penginpan tersebut. Ternyata harganya cukup murah yaitu USD 5 per orang, karena kami berenam jadi menggunakan 2 kamar. Saya dan temen perempuan (sebut saja namanya Sri) menggunakan 1 kamar, sedangkan 4 teman laki-laki menggunakan kamar di sebelah. Masing-masing kamar mendapatkan twin doublebed.


Serasa Genk Motor Ahahaha
Setelah urusan penginapan selesai, kami pun menyewa sepeda motor di tempat penginapan tersebut. Karena kami berenam, jadi kami menyewa 3 sepeda motor saja. Tempat yang kami kunjungi selama di Mui Ne ialah sebagai berikut:


1. Sand Dune


Wefie di Sand Dune
Menuju ke sand dune ini menggunakan sepeda motor yang sudah kami sewa dan menggunakan google map sebagai petunjuk jalan. Dikarenakan yang menggunakan google map ini saya dan tethering dari handphone teman saya yang menggunakan sepeda motor yang lain, jadilah sinyal di hp saya hilang timbul. Dan akhirnya nyasar ke pelosok perumahan warga dengan jalanan sudah tak beraspal lagi ahahaha. Akhirnya kami berinisiatif menanyakan tentang lokasi sand dune ini. Komunikasi dengan warga Mui Ne sangat susah dikarenakan mereka sebagian besar tidak tau bahasa Inggris. Setelah muterin jalan dan sambil mencari arah melalui google map, kami pun menemukan anak sekolah yang sepertinya lagi menunggu angkot dan langsung saja bertanya menggunakan bahasa Inggris, ternyata anak tersebut bisa berbahasa Inggris. Kami pun tanpa berlama-lama langsung menuju arah yang sudah diberitau anak sekolah itu. Dan saat melihat gurun pasir langsung memarkirkan sepeda motor seadanya dan kami pun berlari seperti anak kecil. Kegirangan ini bisa dirasakan dikarenakan pertama, saya yang tidak pernah melihat gurun pasir sebelumnya dan yang kedua, karena sudah nyasar ke pelosok dan lumayan menyita waktu hampir 1 jam hahaha, sungguh kebahagiaan itu sederhana.

White Sand Dune
Di Mui Ne terdapat 2 sand dunes yaitu white dan yellow sand dune yang jaraknya berdekatan. Kami hanya berkunjung ke white sand dune. Dikarenakan sudah keburu magrib kami pun berniat untuk balik ke sand keesokan hari untuk melihat sunrise.

2. Fishing Village

Fishing Village
Setelah balik dari sand dune, kami menuju penginapan. Pada saat di perjalanan kami melihat tempat yang ciamik dan tanpa basa basi kami langsung memarkirkan sepeda motor. Ini merupakan kampung nelayan yang ada di Mui Ne. Saya pun langsung ingat dengan kampung halaman saya di Sumatera Utara. derah ini banyak seafood dan aroma nya juga khas aroma kampung nelayan yaitu bau ikan. Tapi baunya tidak terlalu menyengit dan tidak mengganggu penciuman. Duduk, berfoto, dan bercanda dengan teman yang lain sangat kami nikmati disini. Suasananya sangat cocok untuk bersantai dan menikmati liburan ditambah lampu-lampu dari perahu yang terparkir di pinggir pantai ini menambah kesejukan mata. Sesekali kami juga menikmati tiupan angin yang khas suasana pinggir pantai.

3. Kuliner Seafood


Pilihan Seafood
Dikarenaka Mui Ne adalah daerah pesisir maka kami tidak mau melewatkan kuliner yang satu ini. Seafood bukanlah makanan yang special buat saya dikarenakan saya berasal dari pesisir pantai yang notabenenya sudah sering melihat pemandangan seperti ini. Yang jadi special ialah harga seafood di Mui Ne itu lebih murah. Saya aja anak pesisir menganggap ini murah apalagi kelima teman saya yang lain. Sistem pembeliannya per kilogram dan kami memesan lobster, udang yang lebih kecil, sop kepiting, cumi-cumi, dan ayam goreng (karena salah satu teman saya tidak bisa makan seafood), nasi, dan minuman kelapa muda. Disini dapat menikmati makanan di pinggir pantai dengan backsound suara ombak sehingga menambah ketenangan.

Menu yang Dipesan


Setelah kulineran, kami langsung ke loket tiket untuk membeli tiket bus ke Dalat yang banyak di jual di pinggir jalan. Jadwal bus ke Dalat hanya ada jam 06.30 am dan 16.00 pm. Akhirnya kami memilih keberangkatan pagi dan harus mengorbankan tidak bisa melihat sunrise di sand dune. Setelah membeli tiket, kami mampir ke toko-toko pakaian di pinggir jalan hanya untuk melihat saja dan langsung pulang ke penginapan. Sisanya setelah jalan-jalan kami pergunakan waktu tersebut untuk istirahat. Keesokan paginya kami bergegas menunggu bus. Bus pun datang pada tepat waktu yaitu pukul 06.30 am, dan setelah bergegas kami meninggalkan Mui Ne pada pukul 07.00 am. Di Mui Ne tidak sampai 1 hari atau 24 jam, kami berada di kota ini hanya 20 jam dan sudah memberikan kesan yang begitu baik dan suatu saat ingin lagi mengunjungi kota ini.


Sejauh ini Vietnam adalah salah satu negara yang ingin saya datangi lebih dari sekali, dikarenakan mata uang rupiah lebih tinggi dibanding dong Vietnam. Di Indonesia saya merasa rakyat jelata dan Vietnam saya merasa sosialita ahaha. Dan pemandangan Vietnam juga tidak bisa diremehkan. Sebagian besar berkata bahwa negara ini terdapat banyak scam. Bersyukur selama disana kami tidak mendapatkan hal negatif seperti info yang saya baca sebelumnya, karena saya dan teman ke Vietnam dengan style segembel mungkin ahaha. Pokoknya segala atribut kemewahan tidak dipakai dikarenakan memang tidak punya barang-barang mewah ahaha.

Keep Calm & Travel On

2 komentar:

  1. Sand Dune nya ini yang buat hatiku tergerak mau ngikut melalak cantik ke Vietnam mbak.
    Tulisannya berfaedah sekali nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak ririn udah membaca..moga segera ke sand dune ya mbak :)

      Hapus

| Designed by Colorlib