View dari Menara Taming

Ketika saya sedang melakukan perjalanan pada Oktober 2016, saat itu saya menggunakan penerbangan terakhir dengan tujuan Medan-Kuala lumpur (KLIA2). Sewaktu berada di waiting departure room Kuala Namu International, tanpa sengaja berpapasan dengan laki-laki di depan toilet waiting room. Ini kejadian memang agak lebay sih haha, pada saat berpapasan tersebut kami pandang-pandangan lama banget, beda dengan tatapan normal ketika saat kita ketemu orang lain. Pas masuk ke toilet saya lihat itu pipi saya merah dan dalam hati saya “wew, ganteng juga tuh cowok” hahaha...seriusan pada saat papasan itu emank lagi ganteng-gantengnya atau saya yang lagi cantik-cantiknya ahahaha.

Setelah delay selama 1.5 jam tibalah saatnya boarding, dan saya melihat laki-laki itu boarding juga tapi saya kira dia pergi dengan teman-temannya, secara yang boarding pada saat itu rata-rata kaum muda yang mau traveling. Tibalah saatnya take off, di saat pesawat mengudara dan sedang melek-merem di pesawat tanpa sengaja ada yang menyenggol tangan saya, dan saya langsung melihat ke arah orang tersebut dan ternyata laki-laki yang berpapasan dengan saya di waiting room tadi.


Pesawat tiba di Kuala Lumpur sudah tengah malam dan saat di KLIA2 saya mampir di counter SIM Card dan disitu saya ketemu lagi dengan laki-laki yang sama dan disitu saya sudah memberanikan diri menyapanya “mas dari Medan juga ya” dia tersenyum dan membantu saya aktifasi Simcard saya. Ada kejanggalan yang saya temukan di counter Simcard tersebut yaitu sepertinya dia menunggu saya untuk ke Counter Imigrasi kedatangan. Dalam hati saya sih agak ngedumel juga sih “beuhh gengsi banget sih cuma bilang mau bareng doank”. Akhirnya saya jalan duluan dan gak taunya tu orang ada di belakang saya, saya melambatkan langkah dia juga ikut lambat, ya udah saya cepatin langkah saya, ehhh malah ikutan cepat, makin ngedumel aja dalam hati hahaha “mau kenalan aja pun mesti banget begini caranya”. Saat di imigrasi dia mengikuti ke arah saya dan dia di belakang saya, tiba-tiba ada yang menyalip antrian. Jadilah posisi dia tidak tepat di belakang saya. Pas saya udah keluar imigrasi langsung deh saya ngacir ke toilet, malam itu KLIA2 dingin banget dan saya juga lanjut shalat isya. Setelah itu keliling sebentar di bandara dan mencari minuman dan makanan buat mengganjal perut. Awalnya rencana saya mau numpang duduk di Burger King atau McD atau KFC. Tapi pas saya di Musholla banyak yang tidur disana jadilah saya ikutan tidur-tidur ayam di Musholla.

Tibalah jam 4 subuh dan saya ke luar untuk ke toilet dan keliling sekitaran bandara (malam itu saya tidur cuma 2 jam). Lalu sekitar jam 5 subuh saya siap-siap untuk shalat dan setelah itu pergi ke kota tujuan saya yaitu Melaka. Di Malaysia itu subuhnya lebih lama 1 jam dibanding dengan Indonesia, awalnya saya mau ke Melaka menggunakan bus pertama yaitu jam 6, karena waktu shalat subuh sekitar jam 6 maka saya berniat untuk ke terminal setelah shalat subuh. Jam 7 saatnya saya ke Terminal bus KLIA2 yang terletak di lantai paling bawah. Dilanjutkan dengan membeli tiket bus di counter terlebih dahulu, lalu saya menunggu bus tujuan Melaka di terminal A1, disitu sudah banyak yang menunggu bus ke Melaka, ada rombongan ibu-ibu dari jakarta, pasangan suami istri yang sudah tua tapi tetap sehat dari Singapore (sempat ngobrol sebentar), dan banyak lagi. Jam 7.45 pagi bus pun tiba yaitu StarMart Bus. Semua penumpang siap-siap naik dan pada saat tiket saya dilihat oleh kondektur ternyata jadwal keberangkatan saya pukul 9.00. Yahhh padahal sudah semua penumpang naik dan tinggal saya sendiri di terminal A1, mana diujung dan sepi lagi (takut diculik *seriusan) haha. Beberapa menit saya duduk di trotoar A1 saya melamun dan ngobrol dalam hati “Ya Allah, kok dunia ini sepi banget ya Allah, ulang tahun gini sendiri mana gak ada istimewanya lagi, begini banget sih nasib saya ya Allah...astagfirullah”...istigfar dan melamun ngayal ngidur di trotoar, ketepatan pada saat itu saya lagi ambruk-ambruknya habis ditinggal nikah di bulan agustus hahaha (asli curhat banget ini) dan saya ngobrol lagi dalam hati “Ya Allah, andai laki-laki yang tadi malam bisa jadi travel partner saya pasti dunia ini gak akan sesepi ini”...dan saya agak senyum-senyum sendiri pada saat itu (saat ngetik ini juga lagi senyum)...dan tau gak apa yang terjadi? Saat saya membalikkan kepala saya sejauh 120 derajat ke kiri, ada laki-laki yang bawa kresek putih berisi air mineral menuju ke arah saya dan saya langsung kaget melihat muka orang tersebut, ternyata itu laki-laki yang saya temui tadi malam, dan dia juga sedang melakukan solo travel dengan tujuan sama dengan saya.. ini kebetulan atau sebuah takdir???? Hahahahah lebay gillss. Saya langsung ingat tentang afirmasi, dan saya bertanya lagi dalam hati, apakah ini afirmasi itu? mungkin iya atau entah lah yang penting saya tidak menggalau sendirian lagi. Dia pun langsung duduk di trotoar (sebenarnya itu bukan tempat duduk) di sebelah saya, dan saya langsung nyubit-nyubit pipi saya, takutnya saya mimpi di pagi hari atau halusinasi saja. Saat dia duduk di sebelah saya dan menyapa, raut muka bahagia tidak bisa disembunyikan lagi. Pada saat itu langsung kita berkenalan dan tukaran nomor handphone. Lalu dia menceritakan bahwa dia itu bukan orang Medan tetapi cuma ditugaskan di Medan, stay di Medan baru 1 tahun, karena latar belakang pekerjaan yang jauh berbeda yaitu dia Keuangan dan saya Kimia jadi tidak perlu untuk membahas pekerjaan dengan dia. Yang kami bahas gimana kagetnya tinggal di Medan setelah lama tinggal di Pulau Jawa (memang ada perbedaan yang lumayan signifikan dari segi Lalu lintas). Setelah itu yang kita bicarakan all about travel.

Landmark Kota Tua Melaka

Saatnya bus datang, kami pun mengecek tiket masing-masing, dia seharusnya duduk di seat 19 dan saya seat 11. Saat memasuki bus (ketepatan bus tingkat) dan kami langsung naik ke lantai dua dan supir bus bilang “duduknya tidak perlu sesuai nomor seat, jadi terserah” dan saya juga tidak langsung duduk di sebelah dia, tapi dia menawarkan saya untuk duduk di sebelah, ya dari pada sendirian mending duduk sama orang yang bisa diajak ngombrol...iya gak?..hahahaha..setelah itu tanpa ada yang memutuskan jalan bareng, akhirnya naluri sebagai manusia juga keluar yaitu simbiosimutualisme. Setelah sampai di Melaka Central kami mencari makan terlebih dahulu (emank ni orang tipe cepat lapar hahahaha..tapi tak mengapalah)...berikutnya kita naik bus dalam kota yang menuju ke old town melaka (bangunan merah)...tapi saat itu, saya sudah curiga kita salah terminal, saya melihat bus terparkir adalah bus antar negara dan antar kota. Lalu kami berkeliling mencari bus dalam kota dan ternyata letaknya di belakang (emank busnya mirip-mirip hahahaha). Akhirnya kami menemukan bus yang kami cari yaitu bus Panorama Merah dengan tujuan Old Town Melaka, pada hari itu banyak sekali yang mau ke old town jadi kami harus ikut berdesak-desakan dan tidak kebagian tempat duduk (berdiri). Dan akhirnya tibalah di kota yang menjadi tujuan yaitu Old Town dimana disini banyak tempat-tempat yang menarik untuk dilihat.

Pada dasarnya solo travel itu bukan berarti kemana-mana sendirian, teman bisa didapat dimana saja, hanya saja travelmate yang ini pertemuannya paling drama hahaha. Dari perjalanan dan pertemuan dengan travelmate ini membuat saya sedikit bertaubat karena sudah terlalu underestimate terhadap keadaan, karena ulang tahun pada saat itu tidak ada istimewa-istimewanya sama sekali, jadi saya mau bersembunyi di Melaka dan menangis meringkis di tepi sungai Melaka yang dipenuhi lampu romantis itu. Inilah kegagalan yang paling saya sukai, awalnya niat menggalau tetapi Allah mengubah perjalanan itu menjadi lebih terkesan bahagia. Setidaknya ada teman yang bisa saya ajak bicara, nemenin makan, bercanda, terlebih punya senyum manis berlesung pipi ini ahahahaha.

Sekian tulisan ini, hidup memang tak seindah drama Korea tapi bisa jadi lebih indah dari itu. Cerita drama Korea hanya ditulis oleh writernim sedangkan perjalanan hidup ini ditulis serta diatur oleh Allah SWT sang pengatur segala apapun yang terjadi di dunia ini, dari yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.



Nothing in life is predictable. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib