Tahun 2015 gw memutuskan untuk mengunjungi Vietnam, entah sama siapa atau bagaimana caranya gw kudu melihat negara ini. Alasan utamanya ialah banyaknya racun dari group backpacker yang sengaja gw follow untuk menambah informasi tentang dunia jalan-jalan. Dengan perencanaan yang cukup matang, gw dan kelima travelmate memutuskan untuk berangkat ke Ho Chi Minh City pada Mei 2016. Kota yang kami kunjungi ialah Ho Chi Minh City, Mui Ne, dan Da Lat.  Salah satu kota yang buat gw jatuh hati ialah Da Lat City. Da Lat City merupakan dataran tinggi yang terletak di bagian Selatan Vietnam, bisa dibilang kota ini Bandungnya Vietnam. Kota ini sejuk, bersih, jauh dari yang namanya macet dan harga makanan di kota ini juga murah :), jadi bagi traveler low budget kayak gw cocok banget mengunjungi kota seperti ini..hehehe. Sayangnya kota ini minim akan wanita berjilbab, sehingga ada kejanggalan di mata warga setempat saat melihat wanita berjilbab seperti gw, it's not problem for me coz I'm a sanguine and  like if  I same like a actrist..hahahaha.


                                View Kota Dalat diambil dari Dalat Backpacker Hostel

Hari pertama mengelilingi kota ini dengan berjalan kaki. Tapi kota ini emank cocok banget untuk jalan santai karena sepanjang jalan banyak taman kota dan adanya danau buatan yang disediakan untuk sekedar rekreasi ringan warga dan turis.


Penampakan saat berjalan kaki di Kota Da lat

Ekspektasi terhadap kota ini awalnya juga biasa saja. Pada pembuatan itinerary, gw tidak banyak browsing tentang kota ini. Awalnya cuma mau numpang lewat karena menurut gw perjalanan yang baik itu sebisanya pergi dan pulang dari jalur yang berbeda agar banyak tempat yang dapat kita lihat dan singgahi. Tapi realnya diluar ekspektasi, gw falling in love sama kota ini, karena memberikan kedamaian dan suatu saat pengen balik lagi mengunjungi kota ini entah kapan, sama siapa atau mungkin sendiri.



Kalau ke suatu tempat/desa/negara gw berusaha untuk masuk ke pasar tradisional agar dapat melihat aktifitas dari warga setempat. Di sana banyak pedagang yang menjual buah segar, bunga, dan hasil panen lainnya. Yang paling buat gw takjub bukan hanya sama buah segar, sayur segar, dan bunga-bunga yang indah tapi pedagang-pedangannya cantik-cantik banget, gw sebagai turis merasa kalah saing..ahahaha.

Pasar Tradisional Kota Da Lat

Hari kedua di Da lat kami melakukan private tour seharga DVN 400.000 dengan guide yang super ramah dan kece yaitu Mr. Vu. Mr Vu merupakan laki-laki asli Vietnam yang sudah agak tua tetapi memiliki jiwa muda dan ramah pastinya. Dia membawa kami ke berbagai wisata yang tidak ada dalam itinerary yang gw buat. Hasil dari perjalanan di hari kedua di Da Lat ini luar biasa senang, puas, dan hard to say lah...dia gak hanya membawa ke tempat-tempat wisata tetapi ke pabrik pembuatan Silk juga, sehingga tour ini ada unsur belajarnya, secara gw anak pabrik ahahahahaha

Tempat Penangkaran Jamur (Achen, Ian, Danys, gw, dan Mr. Vu yg kece badai)

 Danau buatan di pinggir jalan (lupa namanya...hahaha)


 Chicken Village (model: ibu-ibu yang english nya bagus dan mudah dimengerti, secara orang Vietnam khususnya di Da Lat jarang yang bisa bahasa Inggris)

 Pongour Waterfall, aslinya jauh lebih bagus dari gambar ini


 Cafe yang berada di tengah-tengah kebun kopi dan diatas kandang luwak, indah banget pemandangan dari sini.


pabrik pembuatan Silk (Mr. Vu memang luar biasa, kita masuk kesini sesuka hati serasa pabrik prebadihh)


 Stasiun Kereta Api (sudah tidak beroperasi lagi)


Kebun bunga (anak alay dilarang masuk ahahahaha)

Gambar tersebut belum mewakili indahnya perjalanan di kota ini, karena keindahan saat melakukan perjalanan tidak dapat dideskripsikan oleh kata-kata atau gambar. Ada hati yang terlibat disana, disaat pikiran tenang, hati bahagia tanpa unsur kepameran, itulah arti sesungguhnya nikmat dari sebuah perjalanan yang indah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib