Ada 2  schedule type untuk para traveler yaitu scheduler (penuh dengan perencanaan matang dan itinerary complete) dan spontanitas atau biasa kita sebut secara jalan-jalan dadakan tanpa perencanaan apapun sebelumnya, saya termasuk di dalam kedua type tersebut. Kadang saya merencanakan perjalanan begitu matang dengan itinerary complete, dan kadang juga secara spontanitas jika suasana hati dan pikiran sangat butuh sosok liburan. Kali ini saya akan membahas tentang perjalan ke Melaka pada oktober 2016. Perjalanan ke Melaka ini termasuk dalam 2 schedule type tersebut, kenapa?? karena saya membeli tiket penerbangan KNO-KLIA2 di bulan maret 2016. Rencananya saya akan gunakan untuk ke Filipina dan lanjut ke Kalibo menuju Boracay, tapi karena keadaan kurang kondusif dan budget (curcol) kurang sehingga orang tua tidak memberikan ijin untuk melipir kesana, rencana berikutnya ke Kamboja bersama teman saya dari Jakarta, karena mereka tidak mendapatkan cuti maka saya cancel dan next trip saja saya mampir ke Kamboja. Akhirnya beberapa minggu sebelum berangkat saya mencari tau tempat yang layak dikunjungi pada saat weekend dengan budget minim dan jaraknya tidak jauh dari Kuala Lumpur. Pilihan terakhir jatuh ke kota penuh sejarah di Malaysia yaitu Melaka setelah ada beberapa choise kota yang masuk dalam bucketlist di tahun 2016. Secara tidak langsung ke Melaka juga dadakan karena ada beberapa choise ke tempat lain gagal hahaha (read: maksa) :)
Bertolak dari KLIA2, saya ke Melaka menggunakan bus StarMart Express yang berada di terminal A1 (paling ujung) dengan biaya RM 24.3. Bus tersedia 30 menit-1 jam sekali, jarak tempuh KLIA2-Melaka sebenarnya hanya 2 jam tetapi karena kebanyakan ngetem jadi membutuhkan +/- 3 jam untuk sampai ke Melaka Sentral. Dari Melaka Central dilanjutkan bus dalam kota yang bernama Panorama (warna merah).

Bus KLIA2-Melaka (tapi saya menggunakan bus tingkat dan tidak sempat terdokumentasi)
Tidak banyak yang dapat dilihat sepanjang jalan KLIA2-Melaka, sebagian besar hanya pohon sawit. Apa mungkin karena saya terlalu banyak menghabiskan waktu bercerita dengan travelmate saya sehingga pemandangan di luar bus bukan jadi sesuatu yang sangat menakjubkan hahahaha.
Sesampainya Melaka Central kami langsung mengisi perut di RM India dan langsung melanjutkan perjalanan menggunakan bus dalam kota dan turun di Bangunan Gereja Merah yang sangat terkenal sebagai Landmark-nya kota tua Melaka.


Stadthuys (Old Town Melacca's Landmark)
Stadthuys (biasa disebut Gereja Merah) sebagai Landmark-nya Old Town Melaka
Bangunan yang Hanya Tinggal Puing-Puing

Saya dan travelmate saya menghabiskan weekend di old town Melaka, jarak tempuh dari Melaka Central tidak terlalu jauh, sekitar 30-45 menit saja dan hanya merogoh saku RM 1. Saat tiba di old town Melaka saya dan travelmate langsung keliling kota ini dengan berjalan kaki. Untuk mengelilingi kota ini bisa dilakukan beberapa cara yaitu jalan kaki (seperti yang saya lakukan), bersepeda (terdapat banyak tempat penyewaan sepeda), becak berkarakter yang unik dan bisa request jenis musik yang kita sukai :). Terlihat dari bangunan, terdapat beberapa bangunan yang sudah diperbaharui dan sebagian hanya tersisa puing2 bangunan bersejarah. Untuk orang-orang pecinta sejarah kota ini cocok dijadikan bucketlist. Mungkin terlalu banyak Museum yang saya datangin jadi saya tidak bercerita banyak tentang sejarahnya hanya mendeskripsikan tentang kota ini saja :). Mengunjungi kota ini sebaiknya saat weekend karena pada saat weekday old town Melaka ini sangat sepi seperti kota mati dan Jonker Street juga beroperasi hanya saat weekend malam. Personally, saya tidak suka akan keramaian suatu tempat, tapi berbeda dengan Melaka, kalau kata saya keramaian Melaka di saat weekend masih dapat ditoleransi karena tidak terlalu crowded. Banyak anak sekolah di Malaysia yang berkunjung ke Melaka, mungkin mereka ingin belajar sejarah tentang kota ini. Bagi saya kota ini sudah sangat bersejarah di kehidupan saya hahahaaha.

Bukit St. Paul (posisi gereja miring dan menuju kesana harus melewati anak tangga)


suasana St. Paul (di dalam terdapat beberapa makam bersejarah)


Pemandangan yang dapat dinikmati dari bukit St. Paul (kiri: Menara Taming Sari)
Suasa jalan kaki di kota tua Melaka

Setelah berkeliling saatnya masuk waktu shalat dzuhur, personally saya suka jalan-jalan di Malaysia itu karena mereka menyediakan tempat ibadah di tengah-tengah tempat wisata dan suara adzan juga terdengar jelas. Walau dalam kondisi apapun kita tak boleh melupakan yang satu itu bukan. So, kami beristirahat dan shalat di mesjid di depan landmark old town Melaka. Setelah itu makan siang dan melanjutkan perjalanan yang santai ini lagi.

Cuma ini yang saya dokumentasikan karena nama restorannya sama dengan nama teman saya :)
Karena travelmate saya sudah lapar sedangkan saya masih merasa kenyang karena sebelumnya saya dan dia sudah makan di Melaka Central maka sebagai travelmate yang baik saya menemani dia di salah satu RM yang lumayan terkenal di Jonker Street (tidak terdokumentasi :) ). Kata travelmate saya "ini Malaysia rasa Hongkong banget", yup bener banget...di Jonker ini lumayan crowded dan dipenuhi dengan berwajah oriental sehingga suasananya seperti bukan lagi di Malaysia.


Suasana di Tepi Sungai Melaka di Siang Hari
Sungai ini sangat bersih jadi pemandangan yang sederhana terlihat lebih bagus karena mereka merawat sungai dan menjaga kota ini sedemikian rupa sehingga menarik wisatawan local dan mancanegara untuk mampir ke kota ini. Setelah berkeliling kami memutuskan untuk menikmati kota Melaka dari Menara Taming.

Pemandangan dari Menara Taming Sari

Setelah seharian mengelilingi kota dengan berjalan kaki, saya memutuskan untuk check in ke hostel yang sudah saya pesan 3 hari sebelum trip ini, begitu juga dengan travelmate (hostel kami terpisah), dan akhirnya kami berpisah dan sepakat ketemu di kincir tepi sungai Melaka 1 jam ke depan. Setelah bertemu kembali kami memutuskan untuk menjalankan kewajiban terlebih dahulu (shalat). Sebelumnya saya sudah mempunyai rencana menikmati malam di Jonker Market karena kebetulan buka pada saat weekend saja. Tetapi karena crowded, travelmate saya pun mengajak untuk mengelilingi Melaka dengan Cruise (perahu biasa dan tidak terlalu besar). Dan kota ini memang dirancang untuk santai, semuanya santai tanpa diburu waktu, pada malam hari juga bagus dikelilingi karena banyak hiasan lampu di tepi Sungai sehingga menambah keindahan kota ini. Sepanjang perjalanan menggunakan perahu kami juga disuguhkan dengan cerita sejarah kota ini dan penjelasan tentang bangunan-bangunan yang terdapat di pinggir sungai yang dilalui oleh cruise tersebut.

Suasana di Tepi Sungai Melaka di Malam Hari
Setelah naik perahu, kami memutuskan untuk keliling di daerah Taming dan terdapat market (seperti pasar kagetnya Melaka) dan banyak kuliner juga di daerah tersebut.

Ini hanya sebagian kecil dokumentasi perjalan saya, sebagian besar sudah terdokumentasi di memori  pikiran saya hehehe.
Jika kalian ada jadwal transit atau mendapatkan tiket yang free seat atau ingin melarikan sejenak dari kota yang penuh dengan kemacetan, kota ini sangat direkomendasikan karena tidak membutuhkan budget yang besar dan lokasi juga tidak terlalu jauh dari KLIA/KLIA2 dengan akses transportasi yang sangat mudah.


Keep Calm & Using your time for experience :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

| Designed by Colorlib